Artikel Motivasi

Kesederhanaan yang elegant

Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in MughraqaSeiring dengan berkembangan jaman dan teknologi  menjadikan kebutuhan hidup semakin luar biasa. pengetahuan  akan informasi semakin hari sangat di perlukan. Perekonomian yang semakin berkembang dan mimpi-mimpi anak negeri semakin meninggi. Berjalan beriringan dengan Indahnya negeri ini. Persaingan untuk meraih mimpi pun semakin seru dengan  banyaknya pesaing-pesaing yang hebat. hampir setiap hari saya selalu berpikir tentang bagaimana untuk terus-menerus menambah pengetahuan dan pengalaman. Tetapi kali ini ada sebuah pemikiran yang sering saya pertanyakan. Sekarang mau makan apa???lho kok ujung2nya ke makanan.

Iya…satu pertanyaan yang sedikit nyleneh dan kadang bikin bingung. Beberapa tahun yang lalu setiap harinya menu makanan saya gak jauh dari nasi putih+ abon lima belas ribuan untuk sebulan dan satu botol kecap gambar burung. Sekalinya bisa beli pecel ayam senengnya luar biasa, makannya di emen-eman bgt, dikit demi sedikit biar lama abisnya.  Namun beberapa tahun berikutnya ada kata-kata yg aneh dari bibir ini :” Ayam-lagi-ayam lagi”. Kenapa bisa begini??apa ayam goreng sekarang gak seenak dulu??

Kebiasaan hiduplah yang membuat seperti itu. Sesuatu yang berlebihan dan keinginan yang tidak terkontrol hanya akan merugikan diri sendiri. Mengingat sedikit tausyiah yang pernah saya ikuti. Tentang keserhanaan Rasulullah SAW. Bahwa dulu Khalifah Umar bin Khattab pernah berkisah: “Aku masuk menemui Rasulullah saw yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekat beliau, lalu beliau menurunkan kain sarungnya. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandang ke sekitar kamar beliau. Aku melihat segenggam gandum, kira-kira seberat satu sha’, dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar, juga sehelai kulit binatang yang samakannya tidak sempurna. Seketika dua mataku meneteskan air mata tanpa dapat aku tahan melihat kesederhanaan beliau. Rasulullah saw bertanya: “Apakah yang membuatmu menangis, wahai Putra Khattab?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar itu telah membekas di tubuhmu, dan di tempat ini aku tidak melihat yang lain daripada apa yang telah aku lihat. Sedangkan Raja Romawi dan Persia bergelimang buah-buahan dan harta, sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya, hanya ada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.” Rasulullah saw lalu berkata: “Wahai Putra Khattab, apakah kamu tidak rela jika akhirat menjadi bagian kita, dan dunia menjadi bagian mereka?”(HR. Muslim)

Luar biasa karakter Rasulullah.  Padahal Rasul telah dianugerahi harta yang sangat banyak, tetapi sesaat kemudian beliau berada dalam kesederhanaan, hartanya diberikannya kepada para yatim dan dhuafa. Saat ini hal seperti ini mungkin sangat mustahil. Tapi walaupun begitu semoga kita senantiasa berusaha untuk berbagi lebih banyak, memberi lebih banyak dan membiasakan kehidupan yang sederhana serta tidak bermewah-mewahan. karena masih banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan bantuan kita. Ayoo berusaha hidup sederhana yang elegant.

Rizqi Agung Permana

Untuk negeriku

2 Comments

  • chy
    June 25, 2013 - 2:51 pm | Permalink

    Like this,, tgl posting’y pas ultah saya,, hanya gara2 liat tgl’y jdi pnasaran pngen baca, dan artikel’y mendidik bgd,, good job 🙂

    • rizqipermana
      June 29, 2013 - 5:27 am | Permalink

      hihi..:)..Makasihh..

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    error: Content is protected !!
    Powered by: Wordpress